Siswa Darul Hikam Integrated School (DHIS) Secondary Lembang melakukan aksi nyata dalam mengimplementasikan ilmu Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) melalui program Bina Desa/Community Service Program.
Kegiatan yang berlangsung pada 11-13 Februari 2026 di Desa Pasir Ipis, Jayagiri, Kabupaten Bandung Barat ini, berhasil menyulap potensi lokal kelopak bunga mawar menjadi produk lip balm (pelembap bibir) alami yang bernilai ekonomi.
Program tahunan ini dirancang untuk melatih kepekaan sosial siswa sekaligus memberikan solusi konkret atas permasalahan di masyarakat melalui pendekatan sains. Selain pembuatan produk kosmetik alami, siswa juga melakukan bakti sosial, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga mengajar di sekolah dasar setempat.
Kepala Sekolah DHIS Secondary Lembang, Ilyas Nasruloh, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi siswa untuk mempraktikkan teori yang didapat di kelas ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan ini adalah manifestasi dari pengembangan akhlak dan adab anak-anak di masyarakat. Kami ingin memastikan keberilmuan STEM yang sudah advance di sekolah diimbangi dengan peran sosial yang nyata. Siswa belajar bagaimana mengomunikasikan ilmu, berinteraksi, dan memecahkan masalah lingkungan seperti pengolahan limbah di desa ini,
Salah satu sorotan utama dalam program ini adalah lokakarya pembuatan lip balm menggunakan ekstrak kelopak bunga mawar. Pemilihan mawar didasarkan pada hasil pemetaan sosial siswa yang melihat melimpahnya sumber daya alam tersebut di Desa Pasir Ipis namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Nisrina Zahira Putri, selaku Penanggung Jawab Program, mengungkapkan antusiasme warga terhadap inovasi tersebut.
Kami mengadakan proyek sosialisasi pembuatan pelembap bibir dari pewarna alami bunga mawar. Alhamdulillah, siswa sangat antusias dan warga desa merasa senang. Harapan besar kami, kreativitas ini memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat setempat,
Bagi para siswa, program ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan peluang untuk mengedukasi warga tentang kewirausahaan berbasis potensi desa. Sazkia Fitri Ratama dan Waffa Nur Syuhada, perwakilan siswa yang memandu jalannya lokakarya, berharap ide ini dapat dikembangkan menjadi unit bisnis mandiri oleh warga desa.
"Kami mengundang warga untuk ikut serta dalam pembuatan lip balm ini. Selain untuk kesehatan dan penampilan, kami melihat ini bisa menjadi ide bisnis di mana warga dapat menjual produk khusus dari desa ini sendiri. Kami berharap warga dapat mengambil pelajaran ini sebagai saran untuk berkreasi kembali dari potensi terbesar mereka, yaitu bunga mawar," tutur Sazkia.