Ada pemandangan yang tak biasa di SDN Pasir Ipis, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang. Sejumlah siswa jenjang SMP (Lower Secondary) dari Darul Hikam Integrated School (DHIS) Secondary Lembang tampak lincah berdiri di depan kelas, memegang spidol, dan berbagi ilmu layaknya guru profesional.
Aksi ini merupakan bagian dari program tahunan bertajuk “Secondary Mengajar” yang berlangsung pada 11-13 Februari 2026. Program unik ini menantang siswa SMP untuk merasakan langsung pengalaman mengajar sekaligus mengimplementasikan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) kepada siswa sekolah dasar.
Kepala Sekolah DHIS Secondary Lembang, Ilyas Nasruloh, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan manifestasi nyata dari pendidikan akhlak dan adab yang selama ini diajarkan di kelas.
“Kegiatan seperti ini merupakan manifestasi dari apa yang sudah kami guru-guru ajarkan di sekolah, terutama untuk pengembangan akhlak dan adab anak-anak di masyarakat,” ujar Ilyas saat diwawancarai di lokasi kegiatan, Kamis (12/02/2026).
Ilyas menambahkan, selain mengajar keterampilan Bahasa Inggris, para siswa juga memperkenalkan konsep STEM sederhana. Tujuannya adalah memastikan bahwa kecanggihan ilmu yang dimiliki siswa di sekolah harus diimbangi dengan kepekaan sosial.
“Kami ingin memastikan apakah keberilmuan anak-anak ini juga diimbangi dengan peran serta mereka terhadap masyarakat. Bagaimana cara mereka mengomunikasikan ilmunya, bersosialisasi, berinteraksi, hingga mempelajari adab-adab yang ada di lingkungan pesantren maupun warga sekitar,” tambahnya.
Sebanyak enam kelompok siswa diterjunkan untuk mengisi kelas 1 hingga kelas 6 di SDN Pasir Ipis. Program ini dirancang sedemikian rupa agar para siswa memiliki kemandirian dan rasa empati terhadap profesi pendidik.
Enggar Pangesti, selaku Penanggung Jawab Program, mengungkapkan bahwa persiapan matang telah dilakukan jauh-jauh hari sebelum siswa terjun ke lapangan.
“Tujuan dari program ini adalah mengajarkan siswa bagaimana menjadi bertanggung jawab, mandiri, berkolaborasi, dan agar mereka dapat memahami bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah,” jelas Enggar.
Sebelum mengajar, para siswa SMP ini wajib menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan melakukan praktik micro-teaching di internal sekolah.
“Persiapannya tidak main-main. Keenam kelompok diberikan waktu untuk menyusun RPP dan melakukan micro-teaching agar mereka dapat tampil dengan baik saat mengajar di depan siswa SD,” tutur Enggar.
Menutup keterangannya, Enggar memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para siswa yang telah berjuang melewati masa persiapan yang cukup melelahkan.
“Miss Enggar ingin mengucapkan terima kasih banyak atas kontribusi kalian. Selama beberapa minggu persiapan, kami mengerti kalian lelah, tetapi kalian telah memberikan yang terbaik. Kalian telah melakukan pekerjaan yang luar biasa,” pungkasnya.